Sabtu, 15 Oktober 2011

Tentang Virgin Coconut Oil (VCO)


Mendengar namanya yang berawal dengan kata “virgin” yang berarti perawan, banyak orang yang terdorong membayangkan bahwa minyak ini ada kaitannya dengan perawan. Padahal walaupun Virgin Coconut Oil memang dikenal sebagai minyak yang mampu melangsingkan tubuh sehingga cenderung digemari oleh para gadis yang memahami manfaatnya, manfaat minyak yang asalnya dari buah kelapa ini lebih luas daripada sebagai pelangsing tubuh.
Hasil-hasil penelitian membuka tabir kerahasiaan alam yang terkandung dalam buah kelapa, menyajikan data tentang manfaat yang beraroma gurih dan lembut itu untuk meningkatkan metabolism tubuh, serta menanggulangi beraneka penyakit.
Virgin Coconut Oil mengandung lauric acid yang tinggi (sampai 53 persen), sebuah lemak jenuh dengan rantai karbon sedang (jumlah karbonnya 12) yang biasa disebut Medium-chain fatty acid alias MCFA.
Mendengar kata “lemak jenuh” orang mudah menjadi takut, terseret oleh mitos tentang bahaya lemak jenuh bagi kesehatan, tanpa menyimak bahwa lemak jenuh yang berantai sedang justru mendukung kesehatan kita.
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Virgin Coconut Oil untuk memasak makanan akan meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit-penyakit yang mematikan. Di dalam tubuh manusia lauric acid akan diubah menjadi monolaurin, sebuah senyawa monoglyceride yang bersifat antivirus, antibakteri, dan antiprotozoa.
Dengan sifatnya itu, monolaurin dapat menanggulangi serangan virus-virus seperti HIV, Herpes simplex-virus-1 (HSV-1), vesicular stomatitis virus (VSV), visna virus, cytomegalovirus (CMV), influenza, dan berbagai bekteri pathogen termasuk listeria monocytogenes dan helicobacter pyloryd, serta protozoa seperti giadia lamblia.
Selain mengandung lauric acid, Virgin Coconut Oil juga mengandung capric acid yang, walaupun kandungannya cuma enam persen, juga bermanfaat bagi kesehatan. Di dalam tubuh kita, lemak berantai sedang yang jumlah karbonnya sepuluh ini diubah menjadi monocaprin, yang bermanfaat untuk mengatasi penyakit-penyakit seksual, seperti virus HSV-2 dan HIV-1, dan bakteri neisseria gonorrhoeae.
Sifat-sifat anti infeksi yang dimiliki oleh asam-asam lemak bergantung pada struktur kimianya, misalnya monoglycerides bersifat anti infeksi, sedangkan diglycerides dan triglycerides bersifat tidak anti infeksi.
Diantara lemak-lemak jenuh yang berantai karbon sedang, lauric acid mempunyai antiviral activity yang lebih besar daripada caprylic acid (dengan delapan karbon), capric acid (sepuluh karbon), atau myristic acid (dengan 14 karbon).
Adalah Dr. Condrado Dayrit, yang pada tahun delapan puluhan menjabat sebagai presiden the national academy of science dan direktur medis potenciano medical center, Filipina, yang mula-mula melaporkan hasil penelitiannya tentang kemampuan lauric acid ataupun capric acid mematikan virus HIV.
Setelah professor JJ Kabara mematenkan hail penelitiannya lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, hasil-hasil penelitian tentang kemampuan Virgin Coconut Oil dalam menanggulangi serangan virus telah banyak dipatenkan, misalnya paten yang dimiliki oleh New England deacones hospital yang berjudul kernel oils and disease treatment.
Dalam tahun 1991 dan 1995, dua buah paten telah dikeluarkan untuk dua kelompok peneliti yang dimotori oleh CE Isaacs. Mereka mematenkan kemampuan monoglycerides dan caproic, caprylic, capric, lauric, dan myristic acid, yang terkandung dalam Virgin Coconut Oil, dalam mematikan beberapa virus. Lemak jenuh berantai sedang yang terkandung dalam Virgin Coconut Oil juga bermanfaat untuk mengontrol berat badan. Obesitas telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di amerika serikat, yang 55 persen rakyatnya mengalami masalah kelebihan berat badan.
Obesitas, penyakit jantung, dan osteoporosis adalah keadaan-keadaan yang diakibatkan oleh rendahnya tingkat metabolisme tubuh. Untuk menghasilkan energi dari karbohidrat, dibutuhkan insulin agar glukosa dapat masuk ke dalam sel.
Banyak orang mengalami masalah produksi insulin ketika mereka menjadi tua sehingga tubuhnya mengalami kesulitan untuk memperoleh energi dari karbohidrat. Glukosa yang tidak atau belum dimanfaatkan untuk energi diubah menjadi triglycerides dan diedarkan ke seluruh tubuh.
Triglycerides dan lipoprotein harus menembus dinding sel agar dapat digunakan menjadi energi. Dan keduanya juga membutuhkan enzim untuk bisa menembus membrane mitokondria didalam sel, tempat energi dihasilkan.
Namun MCFA mempunyai sifat unik, yaitu bahwa dia tidak membutuhkan enzim untuk menembus dinding mitokondria sehingga dapat menghasilkan energi dengan cepat dan efisien.
Itulah sebabnya orang mengatakan bahwa mengkonsumsi MCFA mirip dengan mengisi kendaraan dengan bahan bakar yang beroktan tinggi.
Dikarenakan MCFA mudah diserap ke dalam sel kemudian ke dalam mitokondria, metabolisme pun meningkat. Dan penambahan energi yang dihasilkan oleh metabolisme itu menghasilkan efek stimulasi dalam seluruh tubuh kita.
Disamping meningkatkan level energi kita, ada manfaat lain seiring dengan peningkatan metabolisme itu. Misalnya peningkatan daya tahan terhadap penyakit, dan percepatan penyembuhan dari sakit. Dengan peningkatan metabolisme, sel-sel kita bekerja lebih efisien. Mereka membentuk sel-sel baru serta mengganti sel-sel yang rusak dengan lebih cepat.
Peneliti jepang, T fushiki dan K matsumoto, melaporkan, bahwa dengan mengkonsumsi Virgin Coconut Oil, badan tidak hanya mempunyai energi yang lebih besar, tetapi juga mempunyai daya tahan (endurance) lebih lama.
Dalam pemanfaatannya, Virgin Coconut Oil dapat dikonsumsi secara langsung, atau dipakai untuk memasak. Dengan struktur kimia yang tidak mengandung double bond, minyak ini bersifat tahan terhadap panas, cahaya, oksigen, dan tahan terhadap proses degradasi. Dengan sifat itu, Virgin Coconut Oil dapat disimpan dengan mudah pada suhu kamar selama bertahun-tahun.
Berbeda dengan minyak kelapa biasa yang terbuat dari kopra, Virgin Coconut Oil terbuat dari buah kelapa tua yang masih segar karena baru dipetik. Proses pemanasannya pun tidak menggunakan pemanasan. Ada pula minyak kelapa yang dinamakan refined oil, yang juga menggunakan kelapa segar sebagai bahan dasar, tetapi prosesnya masih menggunakan pemanasan. Untuk menghasilkan satu liter Virgin Coconut Oil dibutuhkan 15-17 butir.
Proses yang tidak melibatkan pemanasan bukan hanya dapat menghasilkan lemak-lemak berantai sedang (MCFA), tetapi juga dapat menjamin keberadaan vitamin E dan enzim-enzim yang terkandung dalam daging buah kelapa.
Sebagai Negara kepulauan terbesar, Indonesia memiliki kebun kelapa (cocos nucifera) terluas di dunia, seluas 3.712 hektar, yang hampir seluruhnya adalah perkebunan rakyat dan merupakan sumber penghasilan sekitar dua setengah juta keluarga petani.
Namun, nilai ekspor minyak kita (32,2 persen) masih dibawah Filipina (45,6 persen dari total ekspor dunia). Konsumsi minyak kelapa terbesar adalah Negara-negara eropa barat sebesar 570.000 ton atau 20,3 persen, kemudian AS sebesar 467.000 ton (16,6 persen) dan India sebesar 451.000 ton (16,1 persen).
Ekspor kita masih dalam bentuk minyak kelapa biasa, sedangkan Filipina sudah mulai menjangkau dunia dengan Virgin Coconut Oilnya dengan harga tiga atau empat kali minyak kelapa biasa. Maka sudah saatnya kita memanfaatkan kekayaan alam kita untuk menghasilkan Virgin Coconut Oil yang bukan hanya meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga meningkatkan kemakmurannya.
Suhirman Ahli peneliti LIPI, Kebun Raya Bogor

0 komentar:

Poskan Komentar